Habis cuti…

21Feb08

1910_2110_foto_faiz_om_le1467_.jpg

aku menjalani izin libur selama sepekan. aku tidak mendapat cuti, karena status kerja. tapi itu bagiku sudah cukup. tak ada alasan untuk izin libur kecuali untuk istirahat dari rutinitas kerja media yang tak kenal waktu, dan ingin dekat dengan anakku, faiz yang sudah memasuki usia di atas dua tahun.
aku merasa bersalah, meski tak sepenuhnya aku menyalahkan diri, karena tidak punya banyak waktu untuk faiz. pekerjaan dam situasi membuat aku tidak bisa berinteraksi lebih dengan faiz. ia sebenarnya merindukan aku. dan aku merindukannya.
selama tujuh hari izin libur, aku selalu bersamanya. bermain, bercanda, dan memarahinya ketika melakukannya hal-hal yang tak sepatutnya. hingga aku ingin membuatkan mainan yang pernah aku bikin di waktu masih kanak-kanak dulu. hanya ada dua mainan yang bisa kubuatkan buat faiz. mainan mobil-mobilan yang pakai tangkai. dan menggambar benda-benda yang ia inginkan. kemudian aku meminta ia menyebutkan nama dari gambar-gambar yang kubikin, dan faiz bisa menghafal semuanya…
tapi hari pertama aku kerja, faiz tidak biasanya. ia tidak bangun ketika kami bangun. istriku –bunda faiz, marsiswanti– nggak terlalu merasa aneh kalau faiz telat bangun. meski sebelum-sebelumnya faiz selalu bangun saat kami terbangun. bahkan ia ikut membantu membuka gembok kunci motor yang terparkir di depan rumah. Senin (18/2) pagi ia tidak bangun. aku dan bunda sis, juga sempat mengganggunya agar bangun. tapi tak berhasil.
“ayo faiz, kok belum bangun juga,” bunda sis mencoba mengganggunya.
tapi ia tak bergeming. ia tetap tidur. satu gelitikan di pinggang yang biasa kami lakukan, hanya ia komentari dan kata-kata yang biasa ia sampaikan kalau ia tak mau digelitik.
“jangan nda!” dalam kalimat yang berirama.
kami mahfum. aku pergi mengantar bundanya ke sekolah tempat mengajar setelah itu aku kembali ke kantor tempat aku bekerja. kembali ke rutinitas yang sudah sangat lama aku lakukan. aku tidak pulang ke rumah, meski ada banyak waktu yang bisa kugunakan untuk berada di rumah.
aku baru pulang saat pekerjaan sudah selesai dan itu jatuhnya pada pukul 12 malam. aku sampai di rumah, tentu saja semuanya sudah tidur. satu jam aku masih menjalani aktifitas makan, nonton, kadang-kadang membaca. setelah itu aku tidur sekitar pukul 01.30 bahkan sampai 02.15. aku bangun lagi pukul 05.00 saat kumandang azan subuh terdengar. kadang bangun sendiri, kadang dibangunin istri.
pagi itu, selasa (19/2) faiz juga belum bangun. aku kembali mengganggunya dengan menggelitik dan menciuminya. tapi ia bergeming. sempat ada kata, “ayah” keluar dari bibirnya. tapi hanya sebentar, lalu kembali tidur.
“ia ngantuk sekali mungkin, semalam ia minta jalan-jalan terus, padahal udah jam 9.00 malam, ya bunda ajak jalan-jalan di taman (taman komplek berada di depan rumah kami),” kata bundanya, untuk meminta aku mengerti dan tidak memaksakan untuk membangunkan faiz. aku mahfum.
hingga aku pergi lagi mengantar bundanya pukul 06.30 WIB, aku tidak bisa berkomunikasi dengan faiz. Duh.. sudah dua hari, aku hanya melihat faiz tertidur. Keesokan harinya, Rabu pagi, baru aku bisa berdialog. Ia bangun menjelang aku berangkat.
pekerjaan memang kadang membuat kita kejam pada anak dan tidak mengerti bahwa anak sebenarnya sangat membutuhkan sentuhan orangtuanya. tidak hanya bunda, tapi juga ayahnya. aku menyadari hal itu. tapi pekerjaan memang telah membuat aku ‘kejam’ tak memberikan kesempatan itu pada faiz untuk bersama-sama, kecuali di hari aku libur di akhir pekan. salah kah aku? yang pasti anakku tidak salah. meski Kamis pagi aku mendapat laporan, Rabu sorenya, faiz sempat dihukum bundanya dengan kurungan di kamar dan membuat ia cemas. lalu, hukuman itu menjadi ancaman yang keluar dari mulut kami, untuk meredakan setiap tingkahnya yang sedang mencoba-coba. aksi coba-cobanya terkadang terlihat nakal, meski sebetulnya ia tidak tahu itu masuk kategori tidak boleh. tapi kita sendiri sebagai orang jauh lebih tidak mengerti. saat ia kita nilai bersalah, kita langsung memberikan hukuman yang mesti tak perlu ia terima. ia masih kecil. dua tahun belum terlalu besar untuk menerima hukuman cubitan, tepukan di tangan, bahkan bentakan. duhhh faiz… maafkan ayah

batam, 22 februari 2008



One Response to “Habis cuti…”  

  1. 1 Ifa

    Blognya simpel tp menarik boleh juga


Leave a Reply