<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>rasakan lalu menulisnya...</title>
	<atom:link href="http://sebataside.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sebataside.wordpress.com</link>
	<description>aku tulis untukku</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jul 2009 16:43:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='sebataside.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/218a4d049f2f453cb5a917f3b1d46aca?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>rasakan lalu menulisnya...</title>
		<link>http://sebataside.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>luar biasanya blog</title>
		<link>http://sebataside.wordpress.com/2009/07/26/luar-biasanya-blog/</link>
		<comments>http://sebataside.wordpress.com/2009/07/26/luar-biasanya-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 16:37:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mairi nandarson</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun ke-11 detikcom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sebataside.wordpress.com/2009/07/26/luar-biasanya-blog/</guid>
		<description><![CDATA[
Bagi surat kabar di era modern internet adalah bagian dari nyawanya. Tanpa internet mustahil proses penerbitan sebuah surat kabar berjalan lancar. Tapi bukan teori ini yang hendak saya bahas, tetapi dari kebutuhan inilah, pengalaman berinternet saya lahir.
Saya menjadi wartawan saat masih tercatat sebagai mahasiswa di IKIP Padang atau Universitas Negeri Padang tahun 1999. Meski pernah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=33&subd=sebataside&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone size-medium wp-image-34" title="blog" src="http://sebataside.files.wordpress.com/2009/07/blog.jpg?w=300&#038;h=290" alt="blog" width="300" height="290" /></p>
<p>Bagi surat kabar di era modern internet adalah bagian dari nyawanya. Tanpa internet mustahil proses penerbitan sebuah surat kabar berjalan lancar. Tapi bukan teori ini yang hendak saya bahas, tetapi dari kebutuhan inilah, pengalaman berinternet saya lahir.<br />
Saya menjadi wartawan saat masih tercatat sebagai mahasiswa di IKIP Padang atau Universitas Negeri Padang tahun 1999. Meski pernah menjadi wartawan kampus, tahun itu, sama sekali internet belum tersentuh oleh pengetahuan saya.<br />
Saat bergabung dengan media harian Mimbar Minang, koran pertama milik Koperasi, saat itu, saya juga belum kenal internet. Awal-awal menjadi wartawan, dengan status mahasiswa dan bujangan, saya sering bermalam di kantor, alias melihat proses kerja redaksi koran saya sampai print terakhir. Koran tempat saya bekerja masih numpang cetak di Singgalang. Sehingga semua edisi yang akan dicetak harus di print kalkir untuk diserahkan ke percetakan. Saya menunggui itu sampai cetakan terakhir, yakni halaman depan satu. Selain untuk memastikan apakah berita yang saya tulis dimuat, juga untuk mengamati kerja redaksi para senior.<br />
Saat itulah, saya melihat ruangan redaktur. Tapi perhatian saya bukan pada apa yang dibuka saat mencari berita internasional yang dilakukan para senior. Melainkan website yang dibuka iseng-iseng setelah pekerjaan hampir rampung. Waktu itu, laman paling sering terlihat adalah playboy. Mata bujang saya, melihat gambar-gambar bugil di situs dewasa itu jelas menumbuhkan ketertarikan.<br />
Iseng-iseng saya memperhatikannya, dan diam-diam mencoba untuk membuka sendiri, saat tidur di kantor. beberapa kali gagal, tetapi kemudian berhasil. Wow.<br />
Perhatian saya makin tertarik saat harian Mimbar Minang kemudian menerbitkan website. Saya pun mendpat email gratis dari website itu. Tetapi saat itu, kegunaan email belum begitu optimal. saya tidak tahu harus berkirim email dengan siapa. Perhatian saya masih pada laman-laman yang menyuguhkan sesuatu yang baru bagi saya.<br />
Setelah itu, dua kali sepekan, saya menyempatkan diri ke warung internet di kantor pos. Meski saat itu masih mahal, saya terus menggunakan. Saya mulai mengenal laman-laman lain, dan laman-laman menggiurkan tadi tetap saja menjadi favorit. Saat itu saya kenal Satunet.Com, Astaga.Com, Boleh.com, Mandiri.com, dan sebagainya. Pertama kali bisa chating adalah saat menggunakan boleh.com. Saya merasa aneh saja, tapi menikmati chating di laman tersebut.<br />
Menghabis waktu dua sampai tiga jam di internet, saya tidak merasa rugi, meski saya belum mendapatkan manfaat. Saban hari saya mengetahui, senior saya, Budi Putra (blogger) bisa membuat website. Padahal, saya tahu dia adalah sarjana dari jurusan sejarah. Saya tertarik dans ering diskusi. Saya ingin membuat website. Saya pun mendalami dengan membeli majalan bekas tentang teknologi informasi. Saat itu saya kenal bahasa JavaScript. Saya tidak paham istilah, tetapi dari petunjuk yang disebutkan, saya mencoba untuk berekperimen. Saat itu, lama Republika, saya copy ke notepad. Kemudian semua kata republika dalam sandi-sandi itu saya ganti nama saya: mairi nandarson. Kemudian saya simpan dalam bentuk HTML. Ajaib, laman Republika berganti menjadi halaman nama saya. Saya kaget, sekaligus senang. Tapi, tentu saja halaman itu tidak aktif. Tapi saya merasa telah mendapatkan ilmu membuat website. Meski mulai mengetahuinya, saya tidak mendalaminya lebih jauh.<br />
**<br />
Saya bukan blogger aktif. Tapi, saya punya banyak blog. Blog pertama yang saya buat adalah tahun 2004. Bukan WordPress atau Blogspot seperti kebanyakan dibuat orang sekarang. Tapi saya sudah tahu ada blog gratis tahun 2004 lewat majalah bernama blogdrive. Blog pertama saya bikin adalah menyimpan kata-kata mutiara yang saya hobby menulisnya dan menyimpannya. Saya buatlah blog http://mutiara.blogdrive.com/, tidak cukup puas dengan blog itu, saya kemudian membuat blog puisi, kebetulan saat itu saya suka menulisnya. Saya buatlah http://mnandarson.blogdrive.com. Tapi, karena saat itu, blog masih sesuatu yang aneh, dan belum banyak dikenal, saya juga sulit memajang dan mempromosikan kepada kawan-kawan. Saya pun tidak terlalu aktif membukanya hingga saya sampai lupa pasword untuk masuk ke blog saya sendiri.<br />
Tapi semangat membuat blog saya kembali bangkit saat demam blog melanda. Saya tidak ingat persis tahunnya. Tapi saya meng-update semua berita-berita tentang Chelsea, karena saya menyukai klub tersebut. Setiap hari saya update di blog yang saya berinama frombatamforchelsea di wordpress. Tapi blog ini, kemudian saya hapus. Saya memilih untuk membuat blog baru, untuk menyimpan kartun saya, kebetulan, saya juga hobby membuat kartun dan sejumlah kartun saya dimuat di berbagai media. Beberapa kartun saya yang tidak dimuat atau yang sudah dimuat saya muat di blog ini: http://nandarson.wordpress.com/ Di blog ini, saya mulai promosi dan berkenalan dengan sesama kartunis, dan teman-teman blogger.<br />
Senang rasanya setiap kartun yang saya muat di blog mendapat komentar dari kawan-kawan bahwa entah dari mana dan siapa dia. Saya senang, karena hobby kartun saya tersalurkan dan orang mendapatkan hiburan dari kartun-kartun itu.<br />
Berhenti? Tidak saya membuat blog hal-hal unik di ranahrantau.wordpress.com, blog ini juga tidak sering update, tetapi saya senang mengumpulkannya. Blog saya yang lainnya adalah  batambetah.wordpress.com tentang Batam.<br />
Apakah saya blogger? Saya tidak mengklaim, tetapi manfaat dari blogger banyak sekali. Saya tidak menemukan kawan, tetapi banyak kawan-kawan menemukan saya dari blog yang saya buat, kemudian berkomentar dan saya bisa berkomunikasi dengan mereka. Luar biasa bukan.(mairi nandarson)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sebataside.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sebataside.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sebataside.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sebataside.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sebataside.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sebataside.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sebataside.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sebataside.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sebataside.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sebataside.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=33&subd=sebataside&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sebataside.wordpress.com/2009/07/26/luar-biasanya-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ecde13ee90c89dd9ac42bf36ae565bec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nandarson</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sebataside.files.wordpress.com/2009/07/blog.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">blog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>manajemen berkendaraan</title>
		<link>http://sebataside.wordpress.com/2008/07/29/manajemen-berkendaraan/</link>
		<comments>http://sebataside.wordpress.com/2008/07/29/manajemen-berkendaraan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 11:25:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mairi nandarson</dc:creator>
				<category><![CDATA[yang mengalir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sebataside.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[
ini soal manajemen. ide ini muncul dari kedai kopi. ngobrol ngidul soal manajemen diri, kawan saya mengeluh giginya sakit. tapi sakitnya ilang saat ngobrol nyerempet soal rencananya menikah dan berbicara soal malam pertama. keasyikan tertawa tida-tiba ia merasakan giginya sakit.
&#8220;aduh, gigi saya sakit,&#8221; katanya.
itulah. saya mengingatkan dia. kita ini tak pernah berubah. dan tidak pernah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=27&subd=sebataside&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://sebataside.files.wordpress.com/2008/07/push_car.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-28" src="http://sebataside.files.wordpress.com/2008/07/push_car.jpg?w=124&#038;h=79" alt="" width="124" height="79" /></a></p>
<p>ini soal manajemen. ide ini muncul dari kedai kopi. ngobrol ngidul soal manajemen diri, kawan saya mengeluh giginya sakit. tapi sakitnya ilang saat ngobrol nyerempet soal rencananya menikah dan berbicara soal malam pertama. keasyikan tertawa tida-tiba ia merasakan giginya sakit.<br />
&#8220;aduh, gigi saya sakit,&#8221; katanya.<br />
itulah. saya mengingatkan dia. kita ini tak pernah berubah. dan tidak pernah belajar dari orang lain. bahwa kita selalu menggunakan manajemen sakit gigi, padahal itu adalah sebuah kesia-siaan. kenapa tidak? orang sakit gigi pasti selalu ingat untuk dicabut. padahal dalam kondisi sakit tak satupun dokter membolehkannya. dokter menganjurkan gigi yang sakit dicabut saat gigi tidak sakit lagi. tapi apa yang terjadi saat gigi tak sakit lagi? kita tak menghiraukannya dan membiarkan gigi itu mengingatkan untuk mencabutnya lagi saat gigi sakit. lalu kejadian berulang. minta cabut dan dokter melarang. inilah kita.<br />
mestinya kita memang harus belajar dari manajemen bahan bakar sepeda motor atau mobil. pernahkah kita membiarkan teng minyak di sepeda motor atau mobil kosong dulu, kemudian baru diisi? tidak pernah bukan? jawabnya sudah pasti, &#8220;gengsi dong mendorong sepeda motor atau mobil&#8221;<br />
kita terbiasa mengisi teng minyak kendaraan kita saat minyak belum habis. itu sebenarnya pelajaran yang luar biasa yang mesti kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. artinya manajemen bbm kendaraan ini bisa membantu kita dalam banyak hal. kita harus cepat bersiap saat kesulitan itu belum datang. artinya saat uang belum habis, carilah duit baru. saat gigi belum sakit, cabutlah gigi yang bermasalah. sama dengan bbm sepeda motor tadi, isilah sebelum habis. bila anda tidak ingin mendorongnya ke SPBU yang jaraknya tidak pasti. salam</p>
<p>batam, 28 juli 2008</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sebataside.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sebataside.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sebataside.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sebataside.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sebataside.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sebataside.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sebataside.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sebataside.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sebataside.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sebataside.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sebataside.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sebataside.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=27&subd=sebataside&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sebataside.wordpress.com/2008/07/29/manajemen-berkendaraan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ecde13ee90c89dd9ac42bf36ae565bec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nandarson</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sebataside.files.wordpress.com/2008/07/push_car.jpg?w=124" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>jadi ayah laksana jadi ibu</title>
		<link>http://sebataside.wordpress.com/2008/03/31/jadi-ayah-laksana-jadi-ibu/</link>
		<comments>http://sebataside.wordpress.com/2008/03/31/jadi-ayah-laksana-jadi-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 17:42:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mairi nandarson</dc:creator>
				<category><![CDATA[yang mengalir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sebataside.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[
ini bukan sebuah keluhan, tapi sebuah rasa yang saya alami saat menjadi ayah laksana menjadi ibu. sejak anakku faiz lahir hingga berusia dua tahun, faiz ditunggui iparku, tetapi sepekan lalu, iparku harus pulang ke padang. mau tidak mau faiz harus bersamaku dan aku menjaganya bak seorang ibu. aku mulai memperhatikannya sejak ia mulai bangun, hingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=24&subd=sebataside&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href='http://sebataside.files.wordpress.com/2008/03/ayah_faiz.jpg' title='ayah_faiz.jpg'><img src='http://sebataside.files.wordpress.com/2008/03/ayah_faiz.thumbnail.jpg' alt='ayah_faiz.jpg' /></a><br />
ini bukan sebuah keluhan, tapi sebuah rasa yang saya alami saat menjadi ayah laksana menjadi ibu. sejak anakku faiz lahir hingga berusia dua tahun, faiz ditunggui iparku, tetapi sepekan lalu, iparku harus pulang ke padang. mau tidak mau faiz harus bersamaku dan aku menjaganya bak seorang ibu. aku mulai memperhatikannya sejak ia mulai bangun, hingga ia tidur siang. itu pun diselingin dengan aktivitas minum susu, makan, dan bermain. menjadi ayah laksana ibu membuat kedekatan emosionalku dengan faiz makin kuat. aku menjadi takjub dengan perkembangan anak dari hari ke aku menemukan apa yang disebut orang anak seusianya mengalami masa pertumbuhan yang lebih banyak merekam. ia banyak menirukan apa yang orang dewasa katakan dan kadang membuat kita malu. suatu ketika saat melihat aku tidur-tiduran, ia langsung minta aku bangun dengan bahasa orang dewasa, yang biasa dikatakan istriku, ketika aku malas-malasan bangun.<br />
&#8220;yah bangun yah, kok tidur-tidur terus.&#8221;<span id="more-24"></span><br />
aku hanya tersenyum nyengir mendengarnya. ia memang lagi butuh aku untuk bangun, karena hanya ada aku di sampingnya untuk diajak bermain. keterlaluan bila aku memaksakan diri untuk tidur kendati aku mengantuk sekali..<br />
aku bermain bersamanya, berpikir bagaimana ia bisa tenang dan senang melakukan sesuatu dan bisa kami lakukan bersama-sama. aku juga harus menurut bila ia menyatakan tidak suka dan mengancam dengan tangisan,untuk menunjukkan ketidaksukaannya pada pilihan kita orang dewasa.<br />
cara untuk membuat anak tidur ternyata punya bahasa sendiri. aku harus bisa membuat ia terlelap dengan cara apapun. membuat mengantuk. bisa dengan nyanyian, bisa dengan dongeng,dan banyak hal.<br />
**<br />
yang terbayang dari apa yang kualami adalah tidak saja bagaimana aku waktu kecil dibawah asuhan makku, tetapi juga bagaimana istriku, sis &#8211;bunda Faiz&#8211; menjaganya hingga tertidur malam hari. itu dilakukan saat sendirian di rumah, karena aku masi kerja hingga larut malam.(*)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sebataside.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sebataside.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sebataside.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sebataside.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sebataside.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sebataside.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sebataside.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sebataside.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sebataside.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sebataside.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sebataside.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sebataside.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=24&subd=sebataside&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sebataside.wordpress.com/2008/03/31/jadi-ayah-laksana-jadi-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ecde13ee90c89dd9ac42bf36ae565bec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nandarson</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sebataside.files.wordpress.com/2008/03/ayah_faiz.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ayah_faiz.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>hujan</title>
		<link>http://sebataside.wordpress.com/2008/03/13/hujan/</link>
		<comments>http://sebataside.wordpress.com/2008/03/13/hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 13:30:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mairi nandarson</dc:creator>
				<category><![CDATA[yang mengalir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sebataside.wordpress.com/2008/03/13/hujan/</guid>
		<description><![CDATA[Ini nyanyian musim. Tentang banjir. Tentang hujan yang selalu datang bermusim dan kita selalu tak bisa menerimanya  dengan lapang dada.
Membiarkannya tumpah di gorong-gorong yang sempit, di jalan-jalan yang rendah, dan di rumah-rumah yang gamang. Hujan datang dan tak pernah ketuk pintu. Ia datang begitu saja, bersama angin, petir, bahkan tak terurai oleh waktu.
Nyanyian banjir. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=23&subd=sebataside&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ini nyanyian musim. Tentang banjir. Tentang hujan yang selalu datang bermusim dan kita selalu tak bisa menerimanya  dengan lapang dada.<br />
Membiarkannya tumpah di gorong-gorong yang sempit, di jalan-jalan yang rendah, dan di rumah-rumah yang gamang. Hujan datang dan tak pernah ketuk pintu. Ia datang begitu saja, bersama angin, petir, bahkan tak terurai oleh waktu.<br />
Nyanyian banjir. Senandung itu melantun lagi, di Batam. Di jalanan, di komplek perumahan, bahkan hingga dalam rumah, banjir membuat frustasi. Datang tak diundang, surut tak bisa diusir.<br />
Dan kita hanya bisa meratap, persis seperti nyanyian banjir musim hujan tahun lalu. Dan kita tak pernah bisa membuatnya jera.(mairi nandarson)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sebataside.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sebataside.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sebataside.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sebataside.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sebataside.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sebataside.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sebataside.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sebataside.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sebataside.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sebataside.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sebataside.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sebataside.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=23&subd=sebataside&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sebataside.wordpress.com/2008/03/13/hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ecde13ee90c89dd9ac42bf36ae565bec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nandarson</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>raso-pareso &#8230;</title>
		<link>http://sebataside.wordpress.com/2008/02/25/raso-pareso/</link>
		<comments>http://sebataside.wordpress.com/2008/02/25/raso-pareso/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 03:31:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mairi nandarson</dc:creator>
				<category><![CDATA[yang mengalir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sebataside.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[ 
rasa periksa. kata ini terjemahan kasar dari bahasa padang raso-pareso. entah betul atau tidak saya tak terlalu peduli. saya hanya ingin mengatakan bahwa raso-pareso orang sekarang sangat tipis. kasarnya, saat ini banyak orang tak tahu-diri dan tidak punya perasaan.. pada lingkungan pekerjaan kantor, di ruang publik, bahkan di tempat-tempat khusus sekalipun..
ada kecenderungan orang kini hanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=21&subd=sebataside&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> <a HREF="http://sebataside.files.wordpress.com/2008/02/son-11.jpg" TITLE="son-11.jpg"><img SRC="http://sebataside.files.wordpress.com/2008/02/son-11.thumbnail.jpg" ALT="son-11.jpg" /></a></p>
<p>rasa periksa. kata ini terjemahan kasar dari bahasa padang raso-pareso. entah betul atau tidak saya tak terlalu peduli. saya hanya ingin mengatakan bahwa raso-pareso orang sekarang sangat tipis. kasarnya, saat ini banyak orang tak tahu-diri dan tidak punya perasaan.. pada lingkungan pekerjaan kantor, di ruang publik, bahkan di tempat-tempat khusus sekalipun..<span id="more-21"></span><br />
ada kecenderungan orang kini hanya berpikir bagaimana ia mendapatkan yang ia inginkan tanpa memikirkan apa yang dirasakan orang lain atas apa yang ia lakukan. ia hanya memikirkan bagaimana ia tidak perlu banyak bekerja dengan mendapatkan gaji yang sebesar-besarnya, tanpa memikirkan orang bekerja keras dengan gaji yang kecil. orang hanya berpikir bagaimana ia hanya bisa menjalani sesuatu yang menurutnya enak dilakukan tanpa pernah memikirkan bahwa orang lain terganggu oleh kesenangannya.<br />
sebutlah di kantor, adakah orang berpikir ingin mendapat pekerjaan lebih? tidak. semua karyawan di kantor berharap mendapatkan pekerjaan seringan-ringannya dan berharap bisa pulang lebih cepat. tapi tahukah anda saat gaji telat, ia justru paling rame melakukan protes? ia pula yang paling ngotot untuk mengoreksi kebijakan perusahaan dan ia pula yang paling getol mengeluh tentang kebijakan di kantor. orang ini sama sekali tidak pernah memiliki timbangan apakah yang ia kerja sudah seimbang dengan apa yang ia dapatkan..<br />
soal rasa.. anda pernah sakit? saat masih berada di lingkungan sosial pekerjaan atau sebuah aktivitas, rasanya kita merasa tercampak, ketika kawan-kawan tidak mengacuhkan kita. rasanya kita merasa tak berharga saat kawan-kawan tak mau tahu dengan apa yang kita rasakan. celakanya, rasa simpatik orang baru tumbuh ketika kita sudah berada di meja operasi, masuk ruang gawat darurat, atau terpaksa nginap di rumah sakit berhari-hari..kasian deh. bayangkan kalau kita nggak punya duit, nggak bisa masuk rumah sakit, separah apapun sakit kita tentu tak akan ada yang memperhatikan kita.. duh tercampak rasanya diri ini &#8230;.<br />
nah di ruang publik raso-pareso itu juga tak ada. adan pasti sudah tahu larangan merokok ada di sejumlah tempat. tapi bagi rokok mania, kegiatan yang satu ini tak pernah memandang papan- stiker-pamflet-reklame larangan merokok, karena baginya hanya bisa merokok.. orang lain yang tak suka merokok, tak pernah dipedulikan, bahkan sama sekali tidak peduli kendati orang juga sudah batuk-batuk karena asap rokoknya dan ada anak kecil di lingkungannya..aneh, kita ini kian hari memang seperti tak pernah punya rasa, kasarnya tak punya perasaan pada orang lain.. yang kita inginkan adalah menyenangkan hati sendiri.. dan mengabaikan perasaan orang lain&#8230;<br />
sampai kapan kita akan seperti ini?  walahualam&#8230;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sebataside.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sebataside.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sebataside.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sebataside.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sebataside.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sebataside.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sebataside.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sebataside.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sebataside.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sebataside.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sebataside.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sebataside.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=21&subd=sebataside&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sebataside.wordpress.com/2008/02/25/raso-pareso/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ecde13ee90c89dd9ac42bf36ae565bec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nandarson</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Habis cuti&#8230;</title>
		<link>http://sebataside.wordpress.com/2008/02/21/habis-cuti/</link>
		<comments>http://sebataside.wordpress.com/2008/02/21/habis-cuti/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 04:59:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mairi nandarson</dc:creator>
				<category><![CDATA[yang mengalir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sebataside.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[
aku menjalani izin libur selama sepekan. aku tidak mendapat cuti, karena status kerja. tapi itu bagiku sudah cukup. tak ada alasan untuk izin libur kecuali untuk istirahat dari rutinitas kerja media yang tak kenal waktu, dan ingin dekat dengan anakku, faiz yang sudah memasuki usia di atas dua tahun.
aku merasa bersalah, meski tak sepenuhnya aku menyalahkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=19&subd=sebataside&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a TITLE="1910_2110_foto_faiz_om_le1467_.jpg" HREF="http://sebataside.files.wordpress.com/2008/02/1910_2110_foto_faiz_om_le1467_.jpg"><img ALT="1910_2110_foto_faiz_om_le1467_.jpg" SRC="http://sebataside.files.wordpress.com/2008/02/1910_2110_foto_faiz_om_le1467_.thumbnail.jpg" /></a></p>
<p>aku menjalani izin libur selama sepekan. aku tidak mendapat cuti, karena status kerja. tapi itu bagiku sudah cukup. tak ada alasan untuk izin libur kecuali untuk istirahat dari rutinitas kerja media yang tak kenal waktu, dan ingin dekat dengan anakku, faiz yang sudah memasuki usia di atas dua tahun.<span id="more-19"></span><br />
aku merasa bersalah, meski tak sepenuhnya aku menyalahkan diri, karena tidak punya banyak waktu untuk faiz. pekerjaan dam situasi membuat aku tidak bisa berinteraksi lebih dengan faiz. ia sebenarnya merindukan aku. dan aku merindukannya.<br />
selama tujuh hari izin libur, aku selalu bersamanya. bermain, bercanda, dan memarahinya ketika melakukannya hal-hal yang tak sepatutnya. hingga aku ingin membuatkan mainan yang pernah aku bikin di waktu masih kanak-kanak dulu. hanya ada dua mainan yang bisa kubuatkan buat faiz. mainan mobil-mobilan yang pakai tangkai. dan menggambar benda-benda yang ia inginkan. kemudian aku meminta ia menyebutkan nama dari gambar-gambar yang kubikin, dan faiz bisa menghafal semuanya&#8230;<br />
tapi hari pertama aku kerja, faiz tidak biasanya. ia tidak bangun ketika kami bangun. istriku &#8211;bunda faiz, marsiswanti&#8211; nggak terlalu merasa aneh kalau faiz telat bangun. meski sebelum-sebelumnya faiz selalu bangun saat kami terbangun. bahkan ia ikut membantu membuka gembok kunci motor yang terparkir di depan rumah. Senin (18/2) pagi ia tidak bangun. aku dan bunda sis, juga sempat mengganggunya agar bangun. tapi tak berhasil.<br />
&#8220;ayo faiz, kok belum bangun juga,&#8221; bunda sis mencoba mengganggunya.<br />
tapi ia tak bergeming. ia tetap tidur. satu gelitikan di pinggang yang biasa kami lakukan, hanya ia komentari dan kata-kata yang biasa ia sampaikan kalau ia tak mau digelitik.<br />
&#8220;jangan nda!&#8221; dalam kalimat yang berirama.<br />
kami mahfum. aku pergi mengantar bundanya ke sekolah tempat mengajar setelah itu aku kembali ke kantor tempat aku bekerja. kembali ke rutinitas yang sudah sangat lama aku lakukan. aku tidak pulang ke rumah, meski ada banyak waktu yang bisa kugunakan untuk berada di rumah.<br />
aku baru pulang saat pekerjaan sudah selesai dan itu jatuhnya pada pukul 12 malam. aku sampai di rumah, tentu saja semuanya sudah tidur. satu jam aku masih menjalani aktifitas makan, nonton, kadang-kadang membaca. setelah itu aku tidur sekitar pukul 01.30 bahkan sampai 02.15. aku bangun lagi pukul 05.00 saat kumandang azan subuh terdengar. kadang bangun sendiri, kadang dibangunin istri.<br />
pagi itu, selasa (19/2) faiz juga belum bangun. aku kembali mengganggunya dengan menggelitik dan menciuminya. tapi ia bergeming. sempat ada kata, &#8220;ayah&#8221; keluar dari bibirnya. tapi hanya sebentar, lalu kembali tidur.<br />
&#8220;ia ngantuk sekali mungkin, semalam ia minta jalan-jalan terus, padahal udah jam 9.00 malam, ya bunda ajak jalan-jalan di taman (taman komplek berada di depan rumah kami),&#8221; kata bundanya, untuk meminta aku mengerti dan tidak memaksakan untuk membangunkan faiz. aku mahfum.<br />
hingga aku pergi lagi mengantar bundanya pukul 06.30 WIB, aku tidak bisa berkomunikasi dengan faiz. Duh.. sudah dua hari, aku hanya melihat faiz tertidur. Keesokan harinya, Rabu pagi, baru aku bisa berdialog. Ia bangun menjelang aku berangkat.<br />
pekerjaan memang kadang membuat kita kejam pada anak dan tidak mengerti bahwa anak sebenarnya sangat membutuhkan sentuhan orangtuanya. tidak hanya bunda, tapi juga ayahnya. aku menyadari hal itu. tapi pekerjaan memang telah membuat aku &#8216;kejam&#8217; tak memberikan kesempatan itu pada faiz untuk bersama-sama, kecuali di hari aku libur di akhir pekan. salah kah aku? yang pasti anakku tidak salah. meski Kamis pagi aku mendapat laporan, Rabu sorenya, faiz sempat dihukum bundanya dengan kurungan di kamar dan membuat ia cemas. lalu, hukuman itu menjadi ancaman yang keluar dari mulut kami, untuk meredakan setiap tingkahnya yang sedang mencoba-coba. aksi coba-cobanya terkadang terlihat nakal, meski sebetulnya ia tidak tahu itu masuk kategori tidak boleh. tapi kita sendiri sebagai orang jauh lebih tidak mengerti. saat ia kita nilai bersalah, kita langsung memberikan hukuman yang mesti tak perlu ia terima. ia masih kecil. dua tahun belum terlalu besar untuk menerima hukuman cubitan, tepukan di tangan, bahkan bentakan. duhhh faiz&#8230; maafkan ayah</p>
<p>batam, 22 februari 2008</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sebataside.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sebataside.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sebataside.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sebataside.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sebataside.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sebataside.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sebataside.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sebataside.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sebataside.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sebataside.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sebataside.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sebataside.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=19&subd=sebataside&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sebataside.wordpress.com/2008/02/21/habis-cuti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ecde13ee90c89dd9ac42bf36ae565bec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nandarson</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>kerinduan anak &#8230;</title>
		<link>http://sebataside.wordpress.com/2008/02/01/kerinduan-anak/</link>
		<comments>http://sebataside.wordpress.com/2008/02/01/kerinduan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 06:51:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mairi nandarson</dc:creator>
				<category><![CDATA[yang mengalir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sebataside.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[ 
anakku faiz rahman aissati, jumat (1/2) dinihari sekitar pukul 02.00 wib, bangun. kebetulan jam segitu aku baru pulang kerja. ia bangun dan menyapaku. &#8220;ayah!&#8221;
awalnya ia hanya berbaring dan melirik-lirik aku. tak lama kemudian ia bercerita bahwa ia jatuh saat bermain di taman depan rumah pada sore hari. ia bercerita bahwa kakinya sakit sambil menunjukkan beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=16&subd=sebataside&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> <a HREF="http://sebataside.files.wordpress.com/2008/02/satu_tahun_faiz_6099.jpg" TITLE="satu_tahun_faiz_6099.jpg"><img SRC="http://sebataside.files.wordpress.com/2008/02/satu_tahun_faiz_6099.thumbnail.jpg" ALT="satu_tahun_faiz_6099.jpg" /></a></p>
<p>anakku faiz rahman aissati, jumat (1/2) dinihari sekitar pukul 02.00 wib, bangun. kebetulan jam segitu aku baru pulang kerja. ia bangun dan menyapaku. &#8220;ayah!&#8221;<span id="more-16"></span><br />
awalnya ia hanya berbaring dan melirik-lirik aku. tak lama kemudian ia bercerita bahwa ia jatuh saat bermain di taman depan rumah pada sore hari. ia bercerita bahwa kakinya sakit sambil menunjukkan beberapa bekas luka, yang sebetulnya luka akibat jatuh saat bermain sebelumnya. aku dengarkan dengan seksama sembari memberikan sikap simpati.<br />
aku juga meladeninya dengan mengingatkannya untuk berhitung dalam bahasa inggris yang ia kenal lewat film cartoon Dora Explorer.<br />
Ia pun berhitung dalam bahasa inggris versinya sebagai anak berusia dua tahun&#8230;  wan, tu, tri, fo, faf, cik, ven, ek, nen, ten.. kemudian ia berdiri melompat dan berteriak horee..<br />
setelah itu melompati tubuhku dan duduk di tubuhku yang terbaring. biasanya ia mengatakan, naik kuda ya.. maksudnya main kuda-kudaan.. tapi faiz belum mengatakan kalimat itu, ketika ia kemudian muntah.. duhhhh.. tapi ia masih berusaha untuk mengatakan apa yang ia alami.. &#8220;muntah yah&#8230;&#8221;.<br />
faiz kami beri minum. bersama istriku yang juga sudah terjaga, badannya dibalurin minyak angin. ia kembali bermain.. tak terlihat bahwa faiza barusan mengalami muntah.. ia teus berusaha bercerita dan menyampaikan apa yang ada di benakknya..hingga aku akhirnya tak bisa menahan kantuk..aku mungkin sudah sempat tertidur, karena beberapa saat kemudian saat aku tersentak, aku masih dengar ia bercerita yang tak bisa kutangkap isinya&#8230;tapi pagi saat bangun tidur, kudapati ia tertidur pulas di sampingiku, tapi tak lama setelah aku bangun dan menyelesaikan shalat subuh, faiz juga bangun..pertemananku dengan faiz hanya berlangsung 30 menit setelah bangun tidur. itupun diisi dengan mandi dan berpakaian, setelah itu aku berangkat ke kantor usai mengantar istriku, bunda faiz..<br />
aku sempat melamun pagi, kenapa faiz begitu ingin bercerita di pagi buta itu? temanku -eddy messakh- yang juga mengalami hal yang sama mengatakan, mungkin itu bentuk protes anak pada kita, atau bentuk keinginan yang sesungguhnya.<br />
kupikir benar juga. faiz mungkin sangat mendambakan untuk bisa bermain, bercerita, dan bercanda dengan aku, ayahnya. mungkin ia berharap aku punya waktu lebih banyak bersamanya..</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sebataside.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sebataside.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sebataside.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sebataside.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sebataside.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sebataside.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sebataside.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sebataside.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sebataside.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sebataside.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sebataside.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sebataside.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=16&subd=sebataside&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sebataside.wordpress.com/2008/02/01/kerinduan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ecde13ee90c89dd9ac42bf36ae565bec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nandarson</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>tali gitar &#8230;</title>
		<link>http://sebataside.wordpress.com/2008/02/01/tali-gitar/</link>
		<comments>http://sebataside.wordpress.com/2008/02/01/tali-gitar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 05:02:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mairi nandarson</dc:creator>
				<category><![CDATA[yang mengalir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sebataside.wordpress.com/2008/02/01/tali-gitar/</guid>
		<description><![CDATA[ 
tali gitar. ya ini bukan belajar musik. tapi soal filosofi kehidupan. saya awalnya tidak menyadari hal ini.  tapi dalam bincang-bincang dengan pemimpin redaksi Tribun Batam, Febby Mahendra Putra -yang menurut saya cerdas, kreatif, dan cermat-, ia melontarkan soal tali gitar. kebetulan sang bos &#8211;beliau pimpinan di Tribun Batam tempat saya bekerja&#8211; adalah penggemar musik, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=14&subd=sebataside&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> <a HREF="http://sebataside.files.wordpress.com/2008/02/g.jpg" TITLE="g.jpg"><img SRC="http://sebataside.files.wordpress.com/2008/02/g.thumbnail.jpg" ALT="g.jpg" /></a></p>
<p>tali gitar. ya ini bukan belajar musik. tapi soal filosofi kehidupan. saya awalnya tidak menyadari hal ini. <span id="more-14"></span> tapi dalam bincang-bincang dengan pemimpin redaksi Tribun Batam, Febby Mahendra Putra -yang menurut saya cerdas, kreatif, dan cermat-, ia melontarkan soal tali gitar. kebetulan sang bos &#8211;beliau pimpinan di Tribun Batam tempat saya bekerja&#8211; adalah penggemar musik, dan suka bermain gitar.<br />
suatu kali dalam menyikapi sebuah pemberitaan ia berkata: rakyat ini seperti senar gitar. awalnya aku tidak terlalu menangkap hubungan rakyat dengan tali gitar. tapi ia menjelaskan bahwa posisi rakyat itu berada di tali paling bawah. di posisi itulah paling genting dan paling sering putus. kenapa? karena paling tipis dan sering digunakan. mana pernah ada orang ganti senar paling atas kecuali karena kecelakaan diluar bermain gitar.<br />
dalam kehidupan sehari-hari, yang paling atas mana pernah sering diganti-ganti. kecuali ada sesuatu yang urgen untuk menggantinya.<br />
sebenarnya banyak alasan logis yang disampaikan cak febby ini, tapi karena bar menulisnya sekarang dan ia sudah menyampaikannya lama sekali, aku hanya bisa menuliskannya sedikit dari apa yang ia sampaikan. tapi jalan hidup itu dinamis. pengalaman akan berbicara bahwa dari gitar akan banyak pelajaran yang ditarik. ia akan membuat kita terhibur, tapi hanya orang yang tepatlah yang bisa melakukannya. kalau tidak. bila gitar tidak dipegang orang yang tepat, suaranya bukannya bikin hiburan, tapi bisa bikin sakit kepala..</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sebataside.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sebataside.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sebataside.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sebataside.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sebataside.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sebataside.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sebataside.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sebataside.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sebataside.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sebataside.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sebataside.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sebataside.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=14&subd=sebataside&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sebataside.wordpress.com/2008/02/01/tali-gitar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ecde13ee90c89dd9ac42bf36ae565bec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nandarson</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>masih mimpi ingin jadi guru</title>
		<link>http://sebataside.wordpress.com/2008/02/01/masih-mimpi-ingin-jadi-guru/</link>
		<comments>http://sebataside.wordpress.com/2008/02/01/masih-mimpi-ingin-jadi-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 04:29:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mairi nandarson</dc:creator>
				<category><![CDATA[yang mengalir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sebataside.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[ 
sebenarnya aku ini guru. aku sudah mengantongi ijazah sarjana pendidikan. sahih sudah status aku ini untuk menjadi guru. tapi belum ada jalan nasib yang membawa aku menjadi guru yang sesungguhnya. aku masih terus bermimpin ingin menjadi guru. aku ingin berada di depan kelas, memberikan sesuatu yang menurutku layak diberikan kepada orang lain yang kini disebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=11&subd=sebataside&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> <a HREF="http://sebataside.files.wordpress.com/2008/02/son21.jpg" TITLE="son21.jpg"><img SRC="http://sebataside.files.wordpress.com/2008/02/son21.thumbnail.jpg" ALT="son21.jpg" /></a></p>
<p>sebenarnya aku ini guru. aku sudah mengantongi ijazah sarjana pendidikan. sahih sudah status aku ini untuk menjadi guru. tapi belum ada jalan nasib yang membawa aku menjadi guru yang sesungguhnya.<span id="more-11"></span> aku masih terus bermimpin ingin menjadi guru. aku ingin berada di depan kelas, memberikan sesuatu yang menurutku layak diberikan kepada orang lain yang kini disebut sebagai murid, siswa, atau audiens. saya tidak peduli kapan itu akan tercapai, tetapi proses menuju itu akan selalu aku coba, meski kadang terbentur dengan disiplin ilmu yang tertera di ijazah. aku tidak tahu, apakah aku yang salah memilih ijazah, atau aku memilih tempat yang salah. yang jelas disiplin ilmu yang kumiliki tak punya tempat pengaplikasian. menyedihkan bukan?<br />
tapi aku tidak berpikir itu. bagiku banyak tempat yang bisa mewujudkan keinginan untuk menjadikan aku guru. mewujudkan mimpi itu. belajar banyak hal dan menularkan kepada orang lain tetap bisa mengantar aku menjadi guru. mimpi itulah yang kutuangkan dalam sebuah puisi berjudul, &#8220;mak aku jadi guru&#8221;. puisi ini kemudian dinobatkan PLN dalam lomba yang diselenggarakannya, sebagai juara kedua. senang. tentu saja. tapi itu baru sebuah mimpi yang kutuangkan dalam bentuk puisi. belum berwujud. meski banyak peluang yang bermunculan, tapi masih saja muncul keraguan, apakah orang percaya bahwa aku punya kemampuan di luar yang tertulis di ijazah? aku ingin orang percaya. tapi siapa yang bisa mendukungnya? entahlah.</p>
<p>ini puisinya. puisi tentang mimpi itu. mimpi menjadi guru.<br />
mak aku jadi guru<br />
/listrik mengajariku</p>
<p>puisi mairi nandarson</p>
<p>1<br />
menjelang tidur<br />
saat usiaku masih belia<br />
mak selalu melempar tanya</p>
<p>tentang mimpiku<br />
tentang anganku</p>
<p>&#8220;nak, kalau kau besar nanti mau jadi apa?&#8221;</p>
<p>aku selalu suka menjawabnya<br />
dan mengatakan anganku</p>
<p>&#8220;aku ingin jadi guru mak!&#8221;</p>
<p>tapi mak berhenti melempar kata<br />
membiarkan aku menunggu<br />
padahal aku berharap<br />
mak akan bertanya:<br />
&#8220;kenapa?&#8221;</p>
<p>2<br />
sebelum senja<br />
saat langit melepas siang<br />
mak memberi sebuah lampu minyak<br />
di atas meja, di dekat buku-buku<br />
tempat aku biasa membaca</p>
<p>tak ada pesan</p>
<p>tapi malam kulewati dengan meretas ilmu<br />
menelusuri cakrawala<br />
sampai pelitanya redup<br />
sebelum malam larut</p>
<p>3<br />
mak tak pernah berkata<br />
tentang langkah<br />
tentang mimpi<br />
tentang asa yang pernah kusapa</p>
<p>membiarkan aku hanyut<br />
dan melempar sauh<br />
sejauh yang kubisa</p>
<p>4<br />
aku rindu suara-suara<br />
lama aku tidak jumpa</p>
<p>ranah telah kutinggal<br />
menjenguk rantau<br />
menatap bilik hidup yang lebih luas</p>
<p>kubiarkan hari berlalu<br />
tak kuhitung detak jantung<br />
kusimpan masa lalu</p>
<p>kutanam angan:<br />
menuju hidup yang baik</p>
<p>5<br />
dari buku kutulis dunia<br />
kabarkan langit<br />
kejar ilmu<br />
sampai larut<br />
di ruang terang<br />
di dunia yang benderang<br />
kutikam mimpi</p>
<p>ku selami maya<br />
berselancar ke dunia lain<br />
menyerpihnya<br />
dalam file-file kehidupan</p>
<p>6<br />
pagi yang awal<br />
kuseduh sejumput pesan<br />
kukatakan dengan rasa<br />
pada sesiapa yang datang menatap</p>
<p>kutitipkan pesan:<br />
listrik telah mengubahku<br />
lampu minyak<br />
telah padam<br />
tapi kusimpan</p>
<p>dalam hati</p>
<p>7<br />
tanpa surat<br />
sebuah pesan telah terkirim</p>
<p>&#8220;mak!<br />
aku jadi guru<br />
listrik mengajariku<br />
mencari ilmu.&#8221;</p>
<p>Batam, Agustus 2007</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sebataside.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sebataside.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sebataside.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sebataside.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sebataside.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sebataside.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sebataside.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sebataside.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sebataside.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sebataside.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sebataside.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sebataside.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=11&subd=sebataside&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sebataside.wordpress.com/2008/02/01/masih-mimpi-ingin-jadi-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ecde13ee90c89dd9ac42bf36ae565bec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nandarson</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>puisi</title>
		<link>http://sebataside.wordpress.com/2007/10/05/puisi/</link>
		<comments>http://sebataside.wordpress.com/2007/10/05/puisi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Oct 2007 17:26:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mairi nandarson</dc:creator>
				<category><![CDATA[yang mengalir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sebataside.wordpress.com/2007/10/05/puisi/</guid>
		<description><![CDATA[
aku memaksakan diri menulis puisi. sudah lama tidak melakukannya. ternyata bisa. padahal sehari-hari selalu mimpi untuk menulis lebih banyak puisi agar bisa dimuat di kompas. tapi tak pernah jadi. seorang teman mengatakan, puisi yang kutulis berpantun. tapi aku tak peduli. aku hanya ingin menulis puisi yang pernah mengisi hari-hari ku dulu. tapi bukan soal menulis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=6&subd=sebataside&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a TITLE="son-4.jpg" HREF="http://sebataside.files.wordpress.com/2007/11/son-4.jpg"><img ALT="son-4.jpg" SRC="http://sebataside.files.wordpress.com/2007/11/son-4.jpg" /></a><br />
aku memaksakan diri menulis puisi. sudah lama tidak melakukannya. ternyata bisa. <span id="more-6"></span>padahal sehari-hari selalu mimpi untuk menulis lebih banyak puisi agar bisa dimuat di kompas. tapi tak pernah jadi. seorang teman mengatakan, puisi yang kutulis berpantun. tapi aku tak peduli. aku hanya ingin menulis puisi yang pernah mengisi hari-hari ku dulu. tapi bukan soal menulis puisi itu yang ingin kukatakan. tapi hasil yang kuraih. ternyata hasil yang bernas dari apa yang kuinginkan seringkali lahir dari sebuah pekerjaan yang tergesa-gesa dan untuk peruntukan yang jelas. nah puisi ini aku tulis untuk lomba. aku hanya menulis dua puisi. satu judulnya on/off, dan satu lagi berjudul mak, aku jadi guru. ternyata puisi mak.. menjadi juara. aku tidak kaget. tapi aku hanya berpikir bahwa ternyata aku masih bisa menulis puisi. masih bisa melahirkan sebuah karya yang lama tak kusentuh. kecuali untuk keperluan narasi foto untuk penerbitan koran. selebihnya tak lahir. tak ada kata puitis dalam hari-hariku. aku berharap ini menjadi awal, karena aku tidak ingin menghilang dari komunitas yang lebih memiliki rasa ini. kelompok orang-orang yang mampu merasakan sesuatu yang tak dirasakan orang lain dan diungkapkan dengan bahasa yang penuh perasaan. ya bahasa puisi.<br />
saya menyertakan satu puisi yang tidak menang. tapi ku masih bangga menulisnya. meski ini puisi lahir dari sebuah pemaksaan tema yang biasanya tidak akan pernah disentuh penyair dalam puisi-puisinya.</p>
<p><strong>on/off</strong><br />
<em>/listrik mengubah segalanya</em></p>
<p>bila kau kikis rasa congkakmu<br />
kau akan sampaikan kata sesal<br />
betapa malam yang kita lewati<br />
pernah berlalu<br />
tanpa cahaya</p>
<p>&#8220;tak ada sesal saat televisi pun<br />
tak pernah kita lihat&#8221;</p>
<p>dan tak pernah ada rasa pamrih<br />
saat lentera harus dijejak<br />
saat matahari mulai mengufuk<br />
membasuh sumbu lentera<br />
mematik api menyulut cahaya</p>
<p>&#8220;tak kita biarkan malam berlalu<br />
dengan kegelapan&#8221;</p>
<p>bila kau pupuk rasa syukurmu<br />
kau basuh hatimu dengan senyuman<br />
betapa tak ternilainya<br />
listrik yang mengalir<br />
energi yang terbagi<br />
dan membawamu ke rumah beribu cahaya</p>
<p>dan tak mesti ada kata tanya<br />
tentang asal-muasal<br />
saat listrik mengubah rona<br />
membawa alam ke segala fana<br />
melontar kata mudah</p>
<p>&#8216;hidupkan tivi, nyalakan radio<br />
dan kita lihat dunia&#8221;<br />
seuntai tali yang tercolok<br />
mungkin tak cukup panjang untuk direntang<br />
tapi listrik yang mengalir<br />
tak menyisakan jarak</p>
<p>&#8220;tekan on/off dan kita tentukan langkah<br />
listrik akan mengubah segalanya&#8221;</p>
<p>Batam, Agustus 2007<br />
(mairi nandarson, 6 oktober 2007)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sebataside.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sebataside.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sebataside.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sebataside.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sebataside.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sebataside.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sebataside.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sebataside.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sebataside.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sebataside.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sebataside.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sebataside.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sebataside.wordpress.com&blog=1831176&post=6&subd=sebataside&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sebataside.wordpress.com/2007/10/05/puisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ecde13ee90c89dd9ac42bf36ae565bec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nandarson</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>